M. Iqbal – Insinyur yang Ahli Koperasi Anggota KPPU Ditangkap KPK
M Husni Nanang
![]() |
|
| M.Iqbal (inilah.com/Asman) |
INILAH.COM, Jakarta – Anggota KPPU Mohammad Iqbal ditangkap tangan KPK karena diduga menerima suap Rp 500 juta. Dikenal sebagai pribadi yang bersih selama ini, Iqbal adalah insinyur teknik yang ahli dalam koperasi.
Siapa dan bagaimana kiprah Mohammad Iqbal selama ini? Berikut profil Ir H Mohammad Iqbal yang dikutip dari situs kppu.go.id, saat diakses pada Selasa (16/9) malam.
Dilahirkan di Jogjakarta 9 November 1955 silam, Iqbal menamatkan pendidikan Sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Bandung. Selama menjadi mahasiswa dia dikenal aktif di berbagai organisasi.
Pada tahun 1977, Iqbal sudah menjabat sebagai Ketua Presidium Dewan Mahasiswa ITB. Dua tahun kemudian, Iqbal dipercaya sebagai Ketua bidang kekaryaan PB HMI hingga 1981.
Suami dari Andralilianti Soekardi ini kemudian berkecimpung di bidang perkoperasian, mulai sebagai pengurus Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung (1979-1981), Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo, 1981-1999), dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin, 1983-2004). Tak pelak dia pun disebut ahli koperasi terkemuka Indonesia.
Iqbal pernah menjabat sebagai Direktur PT Yala Tekno Geothermal-sebuah perusahaan kemitraan antara koperasi dan swasta di bidang pengembangan panas bumi (1995-2000), dan pada kepengurusan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) periode 2004-2008, duduk sebagai Ketua Komite Tetap Pengawas Persaingan Usaha.
Selain itu, Iqbal juga menjadi anggota MPR Periode 1999-2004, mewakili golongan Koperasi. Di tingkat internasional, sejak 1998-2004 Iqbal menjabat Vice Chairman of the Consumer Co-operative Committee ICA ROAP.
Bapak dua putra putri ini terpilih sebagai ketua KPPU periode Juni 2001 sampai Juni 2002, dan tercatat sebagai anggota KPPU hingga 2005. Selanjutnya Iqbal terpilih kembali sebagai anggota KPPU untuk periode 2006-2011.[L6]
.
.
Baca juga:

kata teman saya, alumni ITB adalah putra putri terbaik bangsa..
kata dia juga, alumni ITB itu kalo tidak jadi pejabat yaaa jadi penjahat..
Oleh: mnrp on September 18, 2008
at 1:04 pm
Dear Sahabat KOTI87 Sdr mnrp;
Munkin ada juga benarnya apa yang dikatakan teman anda tersebut. Tak enak memang dicap dengan status Anak ITB jika demikian… kalau tidak jadi Pejabat yaa jadi Penjahat… aje Gileee….
Ketika berkuliah disana (ITB) saya suka tanya kiri kanan pada kawan-kawan sejurusan maupun dari jurusan atau angkatan lain (semacam survey kecil-kecilanlah..). Pertanyaanya, “apakah mereka TOP juaranya di sekolah atau kelasnya semasa SMA (sekarang SMU)..???” Sungguh aneh bin ajaib(gaya Amin Rais):
Ternyata sebagian besar yang saya tanyakan bukanlah TOP juara di SMA nya. Malahan hanya sekitar Rangking 5 s/d 15 disekolahnya atau malah tingkat dikelasnya atau dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata saja.
Artinya kami yang masuk ke ITB belum tentulah bibit yang unggul dikarenakan IQ karena kecerdasan luar biasa, tapi mengkin kebanyakan dari kami berhasil diterima di ITB karena keberanian dalam memilih alias RERTARUNG dengan teman-teman sebaya semasa SMA. Mungkin para juara disekolah kami sudah pada takut duluan untuk diterima, sehingga merekapun memilih universitas-univaersitas lain yang (maaf) agak kurang populer.
Kesimpulannya: bibit TARUNG lah yang menghantar kami ke kampus Ganesha – Bandung (ITB) yang indah itu. Kami alumni SIPIL ITB Misalnya; sangat bersyukur mendapat kesempatan bertahun-tahun untuk duduk menimba ilmu dibangku kuliahnya Soekarno tempo dulu. Dan sebagaimana Bliau, kamipun belajar ilmu-ilmu Teknik dan pengetahuan-pengetahuan lainnya di muka Bumi .
Jadi dalam kamus kami; sampai dengan angkatan tahun 80an atau…yaa mungin hingga awal 90an, memang tiada yang namanya Bertindak TANGGUNG-TANGGUNG. Karena gedung tua yang dulunya bernama Technische Hoge School (THS) di Paris van Java tersebut telah men-sugesti kami bahwa Tangung-tanggung akan mati TERGANTUNG.
Memang banyak diantara kami Alumni ITB yang sudah dicap oleh masyarakat sebagai Penjahat meski sangat banyak juga yang menjadi Pejabat baik dan bersahaja sejak dari berdirinya Republik ini.
Lihatlah misalnya, sepeninggal Founding Father kita Soekarno, berpuluh tahun para Alumni ITB tak terhitung jumlahnya yang menjadi jongos para Alumni Akabri dan UI dalam menata Negara ini. Kami di tempatkan hanya pada pos-pos TUKANG di Kabinet. Seperti; Dept.PU, Deptamben (ESDM kini), Dephub dan sejenis lainnya dll (Pokoknya tugas yang berat-berat dan kasar).
Sementara di sisi lain, sejak jaman Orde baru hingga hari ini, Alumni UI lah yang berjaya memberi masukan kepada Presiden terpilih untuk mengutak-ngatik bidang Ekonomi Negara ini, dan hasilnya..??? Kita saja lihat saja sendiri, ilmu dan metodenya, itu-ituuuu aja…!!! (cape deee…). Kita kita seolah tak akan kunjung keluar dari Kemiskinan Bangsa di bidang Ekonomi. Padahal banyak Amlumni kami yang menjadi Ekonom mumpuni setalah melanjutkan studi (S2,S3, S-batu dan S-lilin) bidang itu (bidang: eiCoonomiiic… itu) di berbagai Univessity di santero jagat ini.
Bersambung….
Salam
KOTI SIPIL ITB ‘87
Oleh: kotisipil87itb on September 18, 2008
at 9:10 pm
@KOTI SIPIL ITB ‘87
maaf jika postingan saya mengusik ketenangan anda, saya hanya menyampaikan apa kata teman saya yang kebetulan juga alumni ITB.
tapi yang jelas, ada pepatah yang mengatakan
gara2 nila setitik hancur susu sebelanga
dan inilah yang terjadi pada salah seorang alumni ITB.
Oleh: mnrp on September 19, 2008
at 4:13 pm
Dear Mr. mnrp;
Tidaklah kita terusik dikarenakan apa yang anda sampaikan. Jangan ragu….
Malahan kita sangat berterima kasih kpd anda..
Maka ke depan, dengan segala upaya akan kita tuang MADU sebanyak-banayaknya…
, agar air sebelanga itu tak kan sampai Rusak..
DEMI BANGSA tentunya…
sekali lagi Tengkiu… atas comment nya.
Salam
KOTI87
Oleh: kotisipil87itb on September 19, 2008
at 6:02 pm
Salam Hormat Bos MNRP,
Klo kita fikir-fikir lagi, kita bisa sebut rusak kalauuu sebelumnya bagus, kemudian kurang bagus atoooo jelek, jadilah kita bisa bilang rusak,…nah…yang…iniiii..nih…, kite…kite…renung dulu…lah…., kapan bagusnya….yang ada…jelek…dan…semakin…jelek,…jadi..nggak bisa disebut RUSAK… jadi gak tepat klo dibilang ‘ GARA2 SETITIK NILA RUSAK SUSU SEBELANGA” yang bener n ih klo bos setuju….”GARA2 SETITIK NILA….TERKENAL NILA SEBELAHNYA” ha..ha..ha.
salam
Oleh: toyo on September 22, 2008
at 5:55 pm
bekerja, berdo’a dan beramal, akan menghindarkan kita dari haram, bersyukurlah dengan apa yang kita peroleh karena apa yang kita peroleh berarti perolehan itu bisa kita pakai untuk menghidupi istri dan anak kita sebagi penerus kita, asal halal! Nilai agama yang kurang akan menjadikan orang sepintar apapun dengan latarbelakang dari manapun HANCUR!
Oleh: tommy on Desember 3, 2008
at 3:32 pm
Sebaiknya para Alumni dalam bertindak hendaknya
dengan menggunakan hati. Sehingga dalam berbisnis maupun memimpin negara juga menggunakan HATI.
Jika hatinya rusak, maka rusaklah semuanya.
Jangan sampai para alumni yang lain terjerembab dalam kasus diatas. Toch manusia ada khilafnya. Tapi jangan bawa2 almamater ya…pribadinya yang harus kita nilai.
Semoga M Iqbal mengambil hikmahnya.
Oleh: yudhi on Desember 9, 2008
at 8:51 am